Memperkuat Karakter Islam Santun sebagai Benteng Intoleransi di Sekolah

 Memperkuat Karakter Islam Santun sebagai Benteng Intoleransi di Sekolah

Oleh: Eko Nur Wibowo

Fenomena intoleransi dan ujaran kebencian di lingkungan sekolah bukanlah persoalan sepele, melainkan ancaman serius bagi masa depan pendidikan dan persatuan bangsa. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh dan belajar justru berpotensi menjadi tempat berkembangnya sikap diskriminatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa dunia pendidikan di Indonesia masih menghadapi tiga dosa besar, yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi (Kompas.tv, 2021). Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut, salah satunya melalui penguatan karakter Islam santun.

Islam pada hakikatnya merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang, kedamaian, dan toleransi. Konsep rahmatan lil ‘alamin menegaskan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam tanpa memandang perbedaan (Udin, 2020). Dalam konteks ini, karakter Islam santun dapat dimaknai sebagai perilaku yang mencerminkan akhlak mulia, seperti saling menghargai, bertutur kata baik, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Akhlak sendiri dalam Islam dipahami sebagai kemampuan jiwa yang mendorong seseorang melakukan perbuatan secara spontan tanpa paksaan (Abidin, 2014).

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya terinternalisasi. Berbagai bentuk intoleransi masih ditemukan, seperti diskriminasi terhadap kelompok tertentu maupun pembatasan kebebasan beragama di lingkungan sekolah (Medcom.id, 2023). Selain itu, ujaran kebencian yang berupa hinaan, ejekan, atau provokasi juga kerap terjadi dan dapat memicu konflik serta merusak keharmonisan (Febriyani, 2018). Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan karakter menjadi kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan.



Menurut pandangan saya, salah satu faktor utama penyebab munculnya intoleransi adalah kurangnya keteladanan dan pembiasaan nilai-nilai positif. Siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, guru memiliki peran strategis sebagai teladan dalam menanamkan sikap toleransi dan akhlak mulia. Selain itu, integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum juga penting, sebagaimana tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila yang menekankan aspek beriman, berakhlak mulia, dan berkebinekaan global (Kemendikbud, 2022).

Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pembelajaran yang mengintegrasikan nilai toleransi di berbagai mata pelajaran serta pembiasaan kegiatan positif seperti kerja kelompok dan gotong royong. Di sisi lain, penanganan yang tegas juga diperlukan apabila terjadi pelanggaran. Tindakan seperti mediasi dan pemberian sanksi edukatif dapat menjadi langkah untuk memberikan efek jera sekaligus pembelajaran bagi siswa.

Pada akhirnya, penguatan karakter Islam santun bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Kolaborasi yang baik antar semua pihak akan menciptakan lingkungan pendidikan yang harmonis, inklusif, dan bebas dari intoleransi. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga wadah pembentukan generasi yang berakhlak mulia dan mampu menjaga persatuan bangsa.


Daftar Pustaka

Abidin, Zainal. 2014. Konsep Pendidikan Karakter Islam. Tapis. Vol. 14 No. 2.

Febriyani, Meri. 2018. Analisis Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Ujaran Kebencian (Hate Speech) Dalam Media Sosial. Universitas Lampung.

Kemendikbud. 2022. Dimensi, Elemen, dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kompas.tv. 2021. Kemendikbudristek: Ada Tiga Dosa Besar Pendidikan di Indonesia.

Medcom.id. 2023. Catatan FSGI Soal 3 Dosa Besar di Dunia Pendidikan Sepanjang 2022.

Udin. 2020. Implementasi Konsep Dakwah Rahmatan Lil Alamin dalam Dakwah Kontemporer. Mataram: Sanabil.

 

0 Response to "Memperkuat Karakter Islam Santun sebagai Benteng Intoleransi di Sekolah"

Posting Komentar